Manusia Aktif Dan Manusia Pasif
oleh : Bahtiar, S.Fil.I
Manusia dikatakan manusia karena
menggunakan potensi kemanusiannya
Manusia dikatakan manusia karena menggunakan
potensi kemanusiaannya untuk kemanusiaan
Manusis dikatakan manusia karena potensinya dia aktualkan
Manusia sebagai mahluk termulia diantara sekian banyak ciptaan tuhan karena manusia memiliki banyak potensi dan kelebihan dibanding makhluq selain dirinya(jin, Malaikat, Hewan dan Tumbuhan). Kelebihan itu misalnya adanya akal budi(burhani) manusia yang digunakan untuk menganalisa masalah, dirinya, alam sekitarnya, sejarah para nabi, peradaban, sosial politik. Akal sebagai alat menganalisa berfungsi memberikan hukum benar dan salah, akal yang membuat batasan mutlak atas sebuah masalah, fenomena alam dan realitas yang jadi pertanyaan. Konon karena akal manusia bisa menjadi seorang intelektual terkenal sama halnya dengan filosof terkenal seperti Plato dan Aristoteles, akal selalu menghadirkan sebuah pertanyaan pada benak manusia yang membuat manusia tidak puas dengan sebuah jawaban atas masalah yang ada, masalah yang ditanyakannya.
Potensi lain adalah potensi Indrawi manusia. Manusia dibekali indra mata sebagai alat melihat bentu dan warna segala sesuatu yang mewujud dalam realitas materil, telinga sebagai alat mendengar suara keras dan suara merdu, lidah sebagai alat mengecap rasa manis dan pahit, kulit sebagai alat indra yang merasakan sakit dan lembutnya sebuah sentuhan dan yang terakhir hidung sebagai alat mencium bau busuk dan bau harum, jika saja hidung anda, saya dan semua manusia tidak ada maka tidak akan ada bau yang bisa dirasakan serta manusia tidak perlu menjual minyak-minyak pengharum karena semua bau harum tidaj akan dirasakan.
Potensi hati yang diistilahkan dalam Al-Quran dengan nama Qalbu. Hati membuat manusia bisa merasakan kesedihan-kesedihan sesamnya, hati membuat manusia metasakan sesuatu yang tidak diindrai namun bisa dicerap dengan sentuhan-sentuhan ketulusan. Hati membuat manusia merasakan cinta, hati membuat manusia merasakan kenikamatan cinta dan mencintai, hati manusia mengahdirkan kelembutan, kasih sayang dan belas kasihan pada makhluq tuhan lainnya. Di dalam hadis dijelaskan jika hati rusak maka rusaklah semua isi diri manusia karena sumber penjaga moral adalah hati. Kalau manusia bermimpi secara otomatis manusia berjalan di alam diluar struktur material jagat raya, mimpi manusia merupakan penggambaran alam supra materialis, mimpi merupakan gambaran alam bawah sadar yang hanya bisa dilihat dan bersinggungan dengan hati manusia.
Potensi manusia hanya bisa dikatakan mengada, aktual jika difungsikan sesuai dengan koridornya msing-masing. Ada potensi segala bentuk yang ada namun belum bisa dikatakan ada secara fungsional jika belum diaktualkan, tangan misalnya potensial digunakan untuk menulis namun jika tidak digunakan maka tangan hanya ada secara potensial tetapi tidak ada secara aktual. Penggunaan potensi diri manusia bisa untuk kebaikan dan bisa untuk keburukan, jika potensi manusia seperti akal digunakan untuk memikirkan bagaimana menjadi seorang penjahat maka potensi ini menjadi aktual pada kejahatan namun sebaliknya penggunaan potensi akal manusia untuk memikirkan dan merancang peradaban Tamadduni maka aktualisasi potensi diri manusia mendapat tempat yang sesuai dan membuatnya aktual secara positif.
Di dalam Al-Quran Surah Al-Baqarah menjelaskan hati manusia sebagai potensi dibagi atas tiga bahagian, pertama hati seorang yang beriman adalah hati yang aktual yang memiliki kesadaran tauhid keimanan kepada Allah SWT dengan beriman pada kitab, nabi, hari akhir dan menjalani kehidupan dunia dengan penuh ketauladanan kedua sakit adalah hati yang dimiliki orang-orang munafiq mereka memiliki hati sebagai potensi kreatif, namun hatinya sakit kronis karena salah memberikan tempat ketiga hati yang mati merupakan penggambaran hati orang-orang yang sudah tertutup pada kebenaran, inilah hati orang-orang kafir. Orang-orang kafir memiliki hati namun hatinya sedah tertutup keras yang di dalamnya dipenuhi oleh belenggu kesesatan sehingga penerimaannya pada kebenaran menjadi sebuah kemustahilan.
Banyak diantara manusia memiliki potensi namun potensinya hanya di dalam dirinya. Bakatnya terpendam, terpenjara dalam benaknya sehingga tidak bisa teraktualisasi secara empirik dan aspek rasa lainnya. Terpenjaranya bakat dasar manusia yang menjadi potensi besarnya lebih banyak disebabkan karena faktor dirinya yang malas, faktor lingkungan sekitaranya yang membuatnya minder dan gagal menjadikan potensinya sebagai alat untuk bergaul dan memahami kehidupannya, ada juga manusia bakatnya tidak aktual karena kedua orang tuanya selalu menekannya, keinginan kreatif sang anak tidak diberikan ruang, sehingga berakibat tetal adanya potensi terjepit dalam diri sang anak.
Manusia banyak yang berfikir namun fikirannya tidak menghasilkan apa-apa selain omong kosong belaka. Karakter manusia seperti ini adalah subjek tanpa objek, karakter berfikir tanpa ada yang dihasilkan pikirannya karena pikirannya menerawan ke alam khayalan. Pikiran tanpa isi merupakan sebuah bentuk dari kesadaran yang menggila dalam kepalsuannya, jika kesadaran seperti ini selalu menjadi bagian dari manusia maka manusia akan jauh dari pandangan-pandangan objektif, pandangan-pandangan terukur dan jelas tujuannya. Jika penulis mengutaran adanya manusia yang berfikir di langit-langit palsu bukan berarti penulis tidak mengakui eksistensi mereka namun penulis ini menegaskan bahwa eksistens mereka hanyalah kesia-siaan semata.
Jika manusia melihat masalah besar, masalah yang menindas, masalah yang melukai rasa keadilan lantas sang individu sebagai manusia tidak memiliki keresahan, kepekaan sosial, maka perasaan kemanusiaannya sebanarnya sudah tidak berfungsi lagi. Mungkin rasa itu masih ada namun secara aktual tidak memiliki tempat dalam kehidupannya, sehingga wajarlah jika manusia seperti ini dijuluki sebagai “Manusia yang tak berperikemanusiaan”. Hati dan jiwa solidaritasnya hilang dalam kenyataan, potensinya yang mulia telah ditiadakannya dalam dirinya, walaupun sesungguhnya ada namun sudah menjadi pasif dan tidak ada gunanya lagi.
Ali Syari Ati membagi manusia menjadi dua, pertama manusia yang ada begitu saja atau dalam istilah bahasa inggrisnya being adanya sebagai manusia hanya sekedar ada, keberadaannya tidak memiliki pengaruh kepada yang lain dia ada begitu saja namun fungsi-fungsi kemanusiaannya tidak dijalankannya secara benar sesuai dengan potensi dasarnya. Adanya hanya buat dirinya saja sehingga dia ada tidak jauh beda dengan binatang jikapun berbeda hanya karena manusia mahluq bercelana binatang tidak bercelana. kedua becoming adanya manusia juga sekaligus mengada, menjadi, merubah, mencipta. Manusia jenis ini akan selalu menghadirkan kegelisahan-kegelisahan terhadap diri dan realitas sosial yang ingkar terhadap kebenaran, manusia yang becoming merupakan individu aktif secara aksiologis, aktif untuk menyarakan setiap kebenaran yang dilanggar oleh manusia lainnya untuk menciptakan peradaban insani.
Untuk menjadi manusia tidak cukup dengan membaca saja ayat Al-Quran namun yang terpenting kemanpuan potensi Qurani, potensi rasio, hati dan indra yang ke lima direalisasikan dalam kehidupan sosial dan keluarga. Potensi diri yang dimiliki di buktikan dengan penggunaannya di tempat yang benar, akal digunakan memikirkan kebaikan dan kesejahteraan umat manusia, indra digunakan melihat fenomena alam untuk dijadikan sebagai bahan eksperiman sainstifik yang humanis, hati digunakan untuk ikut merasakan perasaan senasib, perasaan sedih orang-orang yang terdiskriminasi pada ruang sosial dan melakukan rekayasa sosial kemasyarakatan.
Bantaeng, 08 Mei 2011
0 Comments