Dari Tikungan, Merajut Masyarakat Literer

Merajut Budaya Baca
BUKU adalah jendela pengetahuan. Melalui buku kita bisa mengenal dunia. Sulit bagi kita untuk mengingkari betapa berharganya buku. Namun kenyataannya masyarakat kita masih enggan menggali pengetahuan dari buku.
Di Jember, salah satu kota pendidikan di Jawa Timur yang memiliki setidaknya 8 perguruan tinggi. Minat mahasiswa terhadap buku terlihat dari rendahnya kunjungan mahasiswa ke perpustakaan. Di Universitas Jember yang memiliki perpustakaan berstandar ISO 9001 dan jumlah mahasiswa yang mencapai 18.000 jiwa. Sepanjang Desember 2010 lalu hanya dikunjungi 29.575 mahasiswa. Dalam bulan yang sama itu hanya ada 19.309 transaksi peminjaman. Itu berarti tidak sampai 10 persen mahasiswa yang berkunjung ke perpustakaan setiap harinya.
Barangkali generasi saat ini adalah generasi nol buku, yang rabun membaca dan pincang mengarang seperti dikatakan Taufiq Ismail. Sayangnya lagi generasi itu berada di tengah-tengah masyarakat yang menurut Seno Gumira Ajidarma, “…membaca hanya untuk mencari alamat, membaca untuk mengetahui harga-harga, membaca untuk melihat lowongan perkerjaan, membaca untuk menengok hasil pertandingan sepak bola.”
Kenyataan inilah yang menjadi latar belakang sejumlah pegiat dan alumni persma (pers mahasiswa) yang terhimpun dalam Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI) Dewan Kota Jember berinisiatif mendirikan rumah baca Tikungan pada Maret 2010 silam.
Awalnya, meskipun sebagian besar pegiat persma suka membaca namun hasrat itu tidak mudah terpenuhi. Di Jember buku termasuk barang mewah. Akses terhadap buku-buku berkualitas lumayan sulit. Di samping itu harga buku masih dibilang mahal untuk ukuran kantong mahasiswa. Saling bertukar buku antar pecinta buku merupakan siasat agar dapat membaca buku yang tidak dimiliki.
“Agar memudahkan saling berbagi buku ini, maka dibentuklah rumah baca dengan buku-buku koleksi awal milik pengelola. Beberapa anggota dan kenalan yang lulus memberi sumbangan buku, sehingga koleksi rumah baca terus bertambah,” kata Risky Akbari, Sekjen PPMI Dewan Kota Jember.
Rumah baca yang beralamatkan di jalan Jawa 7 No 36 B tersebut tak ubahnya rumah pemondokan biasa di lingkungan kampus Jember. Tidak ada papan nama penjelasnya pula. Cuma cat rumah berwarna putih merah terasa menarik perhatian dibanding rumah-rumah di sekitarnya. Ada taman kecil dengan tanaman bunga mawar yang sedang mekar di bagian depan rumah hari ini (1/05). Kalau kita memasukinya, rak buku dengan berbagai macam judul menyambutan siapapun yang berkunjung ke sana. Di lantai masih ada beberapa tumpukan buku lagi. Suasana rumah terasa adem meski agak lembab, namun nyaman untuk ketenangan membaca.
Menurut pendapat Hary Wibowo, salah seorang pengunjung, ia lebih suka membaca buku di rumah baca Tikungan daripada perpustakaan di kampusnya. Di sini lebih nyaman membaca buku, sebab jika di perpustakaan kampusnya ia meski memakai sepatu dan pakaian berkerah untuk memasukinya. “Di Tikungan saya bisa membaca buku dengan santai sambil meminum kopi, kadang diskusi sama teman-teman,” kata mahasiswa Fisip Universitas Jember ini.
Dalam menggaet pengunjung para pengelola rumah baca Tikungan menggunakan sistem jejaring di organisasi-organisasi kemahasiswaan. Setiap ada diskusi yang dilaksanakan oleh salah satu organisasi para pengelola berupaya hadir, supaya bisa bersilaturahmi dan mengenalkan rumah baca. Cara ini dirasakan oleh Risky masih efektif digunakan. Sebab dalam organisasi kemahasiswaan kecenderungan mahasiswanya gemar membaca lebih tinggi dibanding mahasiswa yang kesehariannya hanya kuliah saja.
Rumah baca ini menjadi jujukan sejumlah mahasiswa dan pelajar di lingkungan kampus Jember. Sebagian besar pengunjung rumah baca ini memanfaatkan waktu luang menanti jadwal kuliah selanjutnya dengan rehat sembari membaca buku atau sekedar diskusi dengan pengunjung lainnya.
Membangun Komunitas
Menanamkan cinta membaca dan membentuk generasi yang kritis terhadap lingkungan sekitar merupakan cita-cita yang hendak dicapai rumah baca Tikungan.
Diceritakan Risky, berbagai kegiatan digelar oleh para pengelola di rumah baca tikungan ini. Diskusi-diskusi wacana dan pelatihan dilaksanakan kegiatan ini. Diskusi yang dilaksanakan seputar berbagai hal dari diskusi buku hingga kajian filsafat. Berbagai fenomena yang terjadi di lingkungan mereka tetap menjadi hal menarik untuk dibicarakan. Misalnya diskusi mengenai budaya lokal, minat baca, hingga lingkungan kampus yang dipenuhi distro dan rental game.
Pelatihan penulisan menjadi agenda rutin pengelola rumah baca Tikungan. Sebagian besar pengelola rumah baca ini yang mengelola penerbitan mahasiswa di kampusnya masing-masing cukup membantu terlaksananya agenda ini. “Sebagai wadah berlatihnya diterbitkanlah dua media. Buletin Merah Putih terbit setiap bulan dan Jurnal Cerpen Tikungan yang terbit dua bulan sekali,” katanya.
Memasuki pemondokan kecil itu kita akan diingatkan pada Menteng 31 atau Prapatan 10. Di masa pergerakan kemerdekaan dahulu dua tempat itu banyak melahirkan intelektual muda yang bersemangat pembaharu. Mereka lahir dari rutinitas membaca, berdebat, dan berbaur dengan masyarakat negerinya. Intelektual-inteletual muda semacam Soedjatmoko, Sukarni, B.M. Diah, Chairul Saleh, dan tokoh-tokoh pergerakan kemerdekaan lain, lahir dan memberi sumbangsih tercapainya cita-cita kemerdekaan Republik Indonesia.
Meski relatif masih sederhana, setidaknya lewat rumah baca ini mahasiswa telah berbuat sesuatu. Mereka tak hanya mengisi diri sendiri dengan kuliah di kampus, tetapi juga memberi bagi lingkungan sekitarnya. Sekecil apapun itu, setidaknya bisa menjadi awal untuk merajut masyarakat yang literer.

boetta ilmoe

Post a Comment

0 Comments

Jejak Time akan berubah nama seiring dengan pengembangan situs ini. Terus memantau perkembangan kami hingga kami mencapai sesuai harapan para pembaca. Terima kasih untuk tetap setia membaca