Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia. Memiliki luas wilayah 5.193.252 km2 dua per tiga luas wilayahnya merupakan lautan, yaitu sekitar 3.288.683 km2. Sehingga Indonesia juga memiliki julukan sebagai benua maritim atau juga negara kepulauan. Ironinya, di tengah kepungan air laut itu, ternyata masih ada beberapa tempat yang mengalami kekurangan air, terutama mengenai ketersedian air bersih. Akibatnya, di tempat seperti itu air menjadi barang eksklusif. Masyarakatnya harus membeli untuk mendapatkan air bersih.
Total air di bumi(100%)
Air tawar yang tersedia(0,5%)
Air tawar(3%)
Air tawar dengan kualitas yang memadai bagi konsumsi manusia (0,003%)
Persentase ketersediaan air tawar di bumi dengan kualitas yang memadai bagi konsumsi manusia
Air merupakan salah satu senyawa kimia yang terdapat di alam secara berlimpah-limpah. Namun ketersediaan air yang memenuhi syarat bagi keperluan manusia relatif sedikit karena dibatasi oleh berbagai faktor. Dari gambar di atas menjelaskan bahwa dari total air yang ada di muka bumi, lebih dari 97% merupakan air laut yang tidak dapat digunakan oleh manusia secara langsung. Dari 3% air yang tersisa, 2% di antaranya tersimpan sebagai gunung es (glacier) di kutub dan uap air, yang juga tidak dapat dimanfaatkan secara langsung. Air yang benar-benar tersedia bagi keperluan manusia hanya 0.62%, meliputi air yang terdapat di danau, sungai dan air tanah. Jika ditinjau dari segi kualitas air, air yang memadai bagi konsumsi manusia hanya 0,003% dari seluruh air yang ada.
Laju konsumsi air bersih di dunia meningkat dua kali lipat setiap 20 tahun, melebihi dua kali laju pertumbuhan manusia. Beberapa pihak memperhitungkan bahwa pada tahun 2025, permintaan air bersih akan melebihi persediaan hingga mencapai 56%. Kekurangan air bersih dapat berpengaruh terhadap banyak hal, di antaranya dapat mengurangi pembangunan ekonomi dan menurunkan tingkat kehidupan. Ditambah lagi fenomena climate change yang sampai saat ini masih tetap booming sebagai isu dunia. Kenaikan temperatur misalnya, telah mempercepat siklus hidrologi. Atmosfer yang lebih hangat akan menyimpan lebih banyak uap air, sehingga menjadi kurang stabil dan menghasilkan lebih banyak presipitasi, terutama dalam bentuk hujan lebat. Panas yang lebih besar juga mempercepat proses evaporasi. Dampak dari perubahan-perubahan tersebut dalam siklus air adalah menurunnya kuantitas dan kualitas air bersih di dunia.
Berbagai teknologi telah digunakan untuk mengatasi permasalahan air bersih, salah satunya adalah desalinasi air laut menjadi air tawar. Desalinasi adalah proses pemisahan yang digunakan untuk mengurangi kandungan garam terlarut dari air garam hingga level tertentu sehingga air dapat digunakan kemudian pembuatan benih tanaman padi yang tahan salinitas sehingga mengurangi tingkat penggunaan air tawar. Desalinasi dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu dengan proses destilasi dan Reverse Osmosis (RO). Secara prinsip proses destilasi merupakan perubahan fase cair menjadi fase uap. Dimana pada tahap akhir, air laut akan mengalami kondensasi menjadi air murni. Sementara pada proses RO, air dalam prosesnya tidak ada perubahan fase, yang terjadi hanya fase cair saja. Dimana untuk memisahkan air tawar dengan air laut di dapat dari adanya perbedaan tekanan yang menggunakan membran semi permeabelnya.
Namun, menggunakan teknologi ini selain memerlukan biaya yang besar, juga memiliki beberapa kelemahan lain. Kelemahan pada proses desalinasi yang menggunakan teknologi RO diantaranya adalah adanya kemungkinan penyumbatan pada selaput membran oleh bakteri, kerak kapur atau fosfat dari air laut. Selain itu, pemanfaatan teknologi RO untuk menghasilkan air tawar di Indonesia pun masih menghadapi beberapa kendala. Diantaranya, mengenai bahan baku air laut yang sudah relatif kotor. Sehingga, jika penggunaaan bahan baku semacam ini jika dipaksakan tentu akan berpotensi untuk menyumbat membran.
Salah satu alternatif untuk mencegah peningkatan laju konsumsi air tawar sebenarnya bisa dilakukan dengan mengatur pola konsumsi air tawar kita, dengan menerapkan prinsip reuse kita dapat menghemat persediaan air tawar yang ada saat ini. Dan jika tidak dimulai dari sekarang, maka prediksi permintaan dan persediaan air bersih di tahun 2025 pasti tidak dapat terelakkan
Total air di bumi(100%)
Air tawar yang tersedia(0,5%)
Air tawar(3%)
Air tawar dengan kualitas yang memadai bagi konsumsi manusia (0,003%)
Persentase ketersediaan air tawar di bumi dengan kualitas yang memadai bagi konsumsi manusia
Air merupakan salah satu senyawa kimia yang terdapat di alam secara berlimpah-limpah. Namun ketersediaan air yang memenuhi syarat bagi keperluan manusia relatif sedikit karena dibatasi oleh berbagai faktor. Dari gambar di atas menjelaskan bahwa dari total air yang ada di muka bumi, lebih dari 97% merupakan air laut yang tidak dapat digunakan oleh manusia secara langsung. Dari 3% air yang tersisa, 2% di antaranya tersimpan sebagai gunung es (glacier) di kutub dan uap air, yang juga tidak dapat dimanfaatkan secara langsung. Air yang benar-benar tersedia bagi keperluan manusia hanya 0.62%, meliputi air yang terdapat di danau, sungai dan air tanah. Jika ditinjau dari segi kualitas air, air yang memadai bagi konsumsi manusia hanya 0,003% dari seluruh air yang ada.
Laju konsumsi air bersih di dunia meningkat dua kali lipat setiap 20 tahun, melebihi dua kali laju pertumbuhan manusia. Beberapa pihak memperhitungkan bahwa pada tahun 2025, permintaan air bersih akan melebihi persediaan hingga mencapai 56%. Kekurangan air bersih dapat berpengaruh terhadap banyak hal, di antaranya dapat mengurangi pembangunan ekonomi dan menurunkan tingkat kehidupan. Ditambah lagi fenomena climate change yang sampai saat ini masih tetap booming sebagai isu dunia. Kenaikan temperatur misalnya, telah mempercepat siklus hidrologi. Atmosfer yang lebih hangat akan menyimpan lebih banyak uap air, sehingga menjadi kurang stabil dan menghasilkan lebih banyak presipitasi, terutama dalam bentuk hujan lebat. Panas yang lebih besar juga mempercepat proses evaporasi. Dampak dari perubahan-perubahan tersebut dalam siklus air adalah menurunnya kuantitas dan kualitas air bersih di dunia.
Berbagai teknologi telah digunakan untuk mengatasi permasalahan air bersih, salah satunya adalah desalinasi air laut menjadi air tawar. Desalinasi adalah proses pemisahan yang digunakan untuk mengurangi kandungan garam terlarut dari air garam hingga level tertentu sehingga air dapat digunakan kemudian pembuatan benih tanaman padi yang tahan salinitas sehingga mengurangi tingkat penggunaan air tawar. Desalinasi dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu dengan proses destilasi dan Reverse Osmosis (RO). Secara prinsip proses destilasi merupakan perubahan fase cair menjadi fase uap. Dimana pada tahap akhir, air laut akan mengalami kondensasi menjadi air murni. Sementara pada proses RO, air dalam prosesnya tidak ada perubahan fase, yang terjadi hanya fase cair saja. Dimana untuk memisahkan air tawar dengan air laut di dapat dari adanya perbedaan tekanan yang menggunakan membran semi permeabelnya.
Namun, menggunakan teknologi ini selain memerlukan biaya yang besar, juga memiliki beberapa kelemahan lain. Kelemahan pada proses desalinasi yang menggunakan teknologi RO diantaranya adalah adanya kemungkinan penyumbatan pada selaput membran oleh bakteri, kerak kapur atau fosfat dari air laut. Selain itu, pemanfaatan teknologi RO untuk menghasilkan air tawar di Indonesia pun masih menghadapi beberapa kendala. Diantaranya, mengenai bahan baku air laut yang sudah relatif kotor. Sehingga, jika penggunaaan bahan baku semacam ini jika dipaksakan tentu akan berpotensi untuk menyumbat membran.
Salah satu alternatif untuk mencegah peningkatan laju konsumsi air tawar sebenarnya bisa dilakukan dengan mengatur pola konsumsi air tawar kita, dengan menerapkan prinsip reuse kita dapat menghemat persediaan air tawar yang ada saat ini. Dan jika tidak dimulai dari sekarang, maka prediksi permintaan dan persediaan air bersih di tahun 2025 pasti tidak dapat terelakkan
0 Comments