Selama 7 tahun di kampus tidak membuatku surut untuk mencari ilmu. Selama itu dalam kampus membuatku memiliki pengetahuan dan pengalaman yang sangat berarti. Universitas mencetak anak-anak muda yang memiliki banyak inspirasi dan perubahan dalam kehidupan. Seiring dengan berjalannya waktu kita akan disibukkan dalam urusan akademik dan beberapa kegiatan lain dalam kampus, sehingga dapat mencetak pemuda-pemuda tangguh dan berpengalaman.
Setiap tahunnya ratusan bahkan ribuan orang keluar dan masuk universitas untuk universitas kecil, belum termasuk universitas kelas kakap dengan puluhan ribu mahasiswa yang tercetak. Aktifitas di kampus mulai berubah tiap tahuannya, mulai dari mengurus administarasi mahasiswa baru tiapa tahun, matakuliah 2x setahun, penelitian dan data wisudawan 3x pertahun dan banyak lagi yang lain, membuat kehidupan dalam kampus meruapakan kegiatan tersibuk dari semua aktifitas.
Secara otomatis kampus mencetak orang-orang administratif dan melupakan cetakannya dan akhirnya semua keluar dengan berbagai keluhan dan ketidak mapanan. Mahasiswa mulai diajarkan untuk menempuh studi secepat mungkin tak terlepas dari eksat maupun eksakta dan yang tercepat dengan nilai tertinggi akan mendapat penghargaan menjadi mahasiswa terbaik. Cukup mencengankan bagi mahasiswa lain yang memiliki kecakapan dan kemapuan psikomotorik yang tinggi dengan kreasi yang hanya diketahui oleh orang luar tapi tidak dihiraukan pihak kampus.
Pihak kampus akan mencap mahasiswanya yang menempuh studi begitu lama 5, 6 atau bahkan lebih 7 tahun, mereka akan dicibir dan diolok-olok oleh dosen dan tidak sedikit dosen yang mempersulit dan memberika kata-kata yang merendahkan karena diri mereka yang menjadi parameter. saya adalah salah satu mahasiswa yang terlahir dan masuk dalam kampu dengan predikat 7 tahun kuliah dan belum menyelesaikan studi bahkan tertinggal sekitar 6-8 mata kulaiah, membuatku sangat sulit untuk keluar dari cekaman ancama drop out (DO). Berbagai jalan disarankan oleh teman-teman seangkatan dan bahkan dari jurusan lain, salah satunya adalah BK (bimbingan khusus) untuk menutupi kebolongan mata kulaihku itu. Dengan harapan dapat jalan yang mudah, saya berusaha untuk mengumpulkan semua berkas-berkas pendukung dan akhirnya aku beranikan diri menempuh jalan itu, tapi bagian administarasi mengatakan hanya dapat BK 3-5 mata kuliah. aku memutuskan meninggalkan administarasi dengan tanpa banyak kata. Sepanjang perjalanan saya berfikir. "kalau cuma 5 artinya tertinggal 3 matakuliah, sementara waktu pemasukan berkas ujian meja sisa beberapa minggu". dalam benakku mulai mencaci dosen yang aku anggap mempersulitku selama ini, diantaranya dosen yang selalu membuat error mata kuliah, dosen yang tidak mengajak bicara selama 2 tahuan karena pernah ikut proyeknya kemudian pindah dosen yang merupakan dosen yang berseberangan dengannya, anehnya biar saya sapa hanya lewat dan diam saja, juga dosen yang sangat saya sesali adalah dosen yang memberikan nilai tunda kemudian tidak mau mengakui saya ada dikelasnya walau saya telah mencopy dan membawakan tanda bukti, tapi kehadiranku tidak mencapai 80% sebagai standar. Banyak lagi yang tidak perlu di ungkap skarang. brensekkkkkkk...
Stres tapi masih dapat saya kendalikan dan mencari solusi lain. Ternyata ada jalan yang mudah, tapi dengan kekuatan uang (bayar mata kuliah) yang dipatok dengan harga 200 ribu/mata kuliah, kalau dikalikan denga 3/4 mata kuliah maka saya butuh 600-800 ribu untuk menutupinya. Artinya, "saya menyogok untuk mendapatkan Ijazah S1". Kalau difikir-fikir cukup meringankan karena itu dilakukan oleh kebanyakan mahasiswa untuk memuluskan Ijazahnya. Bagi saya itu adalah hal yang terberat untuk dilakukan dengan alasan; kami yang menolak dan mengunkap kasus-kasus seperti itu di kampus dulu, kedua Ijazah yang saya dapat merupakan hasil kecurangan yang akan dinikmati oleh banyak orang, termasuk orang tua, sanak saudara dan anak cucu kedepannya. Walau saya di anggap stres dan sok suci, setidaknya saya menyadari dosa yang akan dinikmati banyak orang bukan hanya untuk dunia tapi juga untuk akhirat kelak.
"Menyogok dan disogok sama-sama masuk neraka". Bagi saya yang sudah mengetahui hal itu tidak mungkin melakukannya, aku akan tabah dan yakin bisa saya hadapi hidup ini tanpa sarjana. Beberapa hari terakhir saya dianggap dan dicibir sebagai pemalas dan lain-lain. aku terima kata-kata itu dengan ikhlas dan penuh kesabaran dengan alasan bahwa saya tidak menipu orang tuaku untuk mendapatkan suntikan dana walau saya juga beberapa kali minta bantuannya. Selama ini aku berusaha untuk mandiri dan menghidupi diriku sendiri walau harus menahan lapar demi menyenangkan orang tua karena tidak terbebani dengan kehidupanku yang jauh darinya.
Maafkan aku Ibu, ayah, saudara-saudaraku dan keluargaku yang sangat menginginkan aku memakai TOGA, aku tidak mampu untuk menyenangkanmu hari ini tapi Insya Allah aku tidak membebanimu dengan dosa SARJANAku diakhirat nanti karena hasil sogokan. Semoga Tuhan menyadarkanku disetiap kesalahan yang aku lakukan.
Setiap tahunnya ratusan bahkan ribuan orang keluar dan masuk universitas untuk universitas kecil, belum termasuk universitas kelas kakap dengan puluhan ribu mahasiswa yang tercetak. Aktifitas di kampus mulai berubah tiap tahuannya, mulai dari mengurus administarasi mahasiswa baru tiapa tahun, matakuliah 2x setahun, penelitian dan data wisudawan 3x pertahun dan banyak lagi yang lain, membuat kehidupan dalam kampus meruapakan kegiatan tersibuk dari semua aktifitas.
Secara otomatis kampus mencetak orang-orang administratif dan melupakan cetakannya dan akhirnya semua keluar dengan berbagai keluhan dan ketidak mapanan. Mahasiswa mulai diajarkan untuk menempuh studi secepat mungkin tak terlepas dari eksat maupun eksakta dan yang tercepat dengan nilai tertinggi akan mendapat penghargaan menjadi mahasiswa terbaik. Cukup mencengankan bagi mahasiswa lain yang memiliki kecakapan dan kemapuan psikomotorik yang tinggi dengan kreasi yang hanya diketahui oleh orang luar tapi tidak dihiraukan pihak kampus.
Pihak kampus akan mencap mahasiswanya yang menempuh studi begitu lama 5, 6 atau bahkan lebih 7 tahun, mereka akan dicibir dan diolok-olok oleh dosen dan tidak sedikit dosen yang mempersulit dan memberika kata-kata yang merendahkan karena diri mereka yang menjadi parameter. saya adalah salah satu mahasiswa yang terlahir dan masuk dalam kampu dengan predikat 7 tahun kuliah dan belum menyelesaikan studi bahkan tertinggal sekitar 6-8 mata kulaiah, membuatku sangat sulit untuk keluar dari cekaman ancama drop out (DO). Berbagai jalan disarankan oleh teman-teman seangkatan dan bahkan dari jurusan lain, salah satunya adalah BK (bimbingan khusus) untuk menutupi kebolongan mata kulaihku itu. Dengan harapan dapat jalan yang mudah, saya berusaha untuk mengumpulkan semua berkas-berkas pendukung dan akhirnya aku beranikan diri menempuh jalan itu, tapi bagian administarasi mengatakan hanya dapat BK 3-5 mata kuliah. aku memutuskan meninggalkan administarasi dengan tanpa banyak kata. Sepanjang perjalanan saya berfikir. "kalau cuma 5 artinya tertinggal 3 matakuliah, sementara waktu pemasukan berkas ujian meja sisa beberapa minggu". dalam benakku mulai mencaci dosen yang aku anggap mempersulitku selama ini, diantaranya dosen yang selalu membuat error mata kuliah, dosen yang tidak mengajak bicara selama 2 tahuan karena pernah ikut proyeknya kemudian pindah dosen yang merupakan dosen yang berseberangan dengannya, anehnya biar saya sapa hanya lewat dan diam saja, juga dosen yang sangat saya sesali adalah dosen yang memberikan nilai tunda kemudian tidak mau mengakui saya ada dikelasnya walau saya telah mencopy dan membawakan tanda bukti, tapi kehadiranku tidak mencapai 80% sebagai standar. Banyak lagi yang tidak perlu di ungkap skarang. brensekkkkkkk...
Stres tapi masih dapat saya kendalikan dan mencari solusi lain. Ternyata ada jalan yang mudah, tapi dengan kekuatan uang (bayar mata kuliah) yang dipatok dengan harga 200 ribu/mata kuliah, kalau dikalikan denga 3/4 mata kuliah maka saya butuh 600-800 ribu untuk menutupinya. Artinya, "saya menyogok untuk mendapatkan Ijazah S1". Kalau difikir-fikir cukup meringankan karena itu dilakukan oleh kebanyakan mahasiswa untuk memuluskan Ijazahnya. Bagi saya itu adalah hal yang terberat untuk dilakukan dengan alasan; kami yang menolak dan mengunkap kasus-kasus seperti itu di kampus dulu, kedua Ijazah yang saya dapat merupakan hasil kecurangan yang akan dinikmati oleh banyak orang, termasuk orang tua, sanak saudara dan anak cucu kedepannya. Walau saya di anggap stres dan sok suci, setidaknya saya menyadari dosa yang akan dinikmati banyak orang bukan hanya untuk dunia tapi juga untuk akhirat kelak.
"Menyogok dan disogok sama-sama masuk neraka". Bagi saya yang sudah mengetahui hal itu tidak mungkin melakukannya, aku akan tabah dan yakin bisa saya hadapi hidup ini tanpa sarjana. Beberapa hari terakhir saya dianggap dan dicibir sebagai pemalas dan lain-lain. aku terima kata-kata itu dengan ikhlas dan penuh kesabaran dengan alasan bahwa saya tidak menipu orang tuaku untuk mendapatkan suntikan dana walau saya juga beberapa kali minta bantuannya. Selama ini aku berusaha untuk mandiri dan menghidupi diriku sendiri walau harus menahan lapar demi menyenangkan orang tua karena tidak terbebani dengan kehidupanku yang jauh darinya.
Maafkan aku Ibu, ayah, saudara-saudaraku dan keluargaku yang sangat menginginkan aku memakai TOGA, aku tidak mampu untuk menyenangkanmu hari ini tapi Insya Allah aku tidak membebanimu dengan dosa SARJANAku diakhirat nanti karena hasil sogokan. Semoga Tuhan menyadarkanku disetiap kesalahan yang aku lakukan.
0 Comments