Hari itu aku sangat yakin dan percaya kalau menjadi seorang guru adalah tugas yang sangat mulia. sampai merelakan diri untuk mengabdi ke kampung orang walau harus menempuh jarak kiloan meter dari rumah ke tempat mengajar. 5 tahun lamanya dalam pengabdian, atas dorongan orang-orang dekat untuk mencari rejeki lebih baik yaitu menjadi seorang PNS. Setelah mempertimbangkan dengan matang, maka saya mencoba untuk mengajukan diri dan berkas-berkas yang di anggap perlu untuk memenuhi persyaratan sebagai CPNS.
Lamaran pertama sudah di terima dan menunggu giliran untuk memenuhi panggilan. setahun berlalu panggilan itu tidak muncul-muncul dan hati pun mulai gusur dan bertanya-tanya dengan keadaan saat itu karena sudah masuk tahun ke 6 pengabdian sementara syaratnya cuma 2 tahun. Secara tidak langsung nilai keiklasan sebagai pengabdian mulai luntur dengan sendirinya. tapi apa mau di kata kehidupan harus lebih baik dari yang sebelumnya.
Rencana untuk mencari jawaban dengan tidak datangnya panggilan tersebut malah harus menelan pil pahit. Seorang teman tanpa pengabdian dinyatakan lulus dan di tempatkan di lokasi dimana saya mengabdi saat ini. Dengan rasa kecewa mencoba untuk tetap mengabdi seperti biasa. Menurut cerita, teman yang lulus sebagai PNS membeli kartu pengabdian dan membayar puluhan juta untuk lolos sebagai PNS dan ada pula yang membayar sampai ratusan juta rupiah.
"apa benar?" serasa aku tidak yakin dengan kejadian itu. aku pun mencoba menggali informasi ke berbagi tempat, sampai akhirnya aku menemukan seorang yang kuanggap sebagai orang tua angkatku, dia bercerita dan memberikan bukti kwitansi pembayaran sekitar 40 orang dengan nilai milyaran rupiah. Aku semakin yakin dengan kecurangan, tapi kenapa semua bungkam? dan kenapa mereka merelakansemua itu, apa ini yang namanya pengabdian mulia?, atau ini hanyalah lelucon yang kadang membuat ngakak dan tersenyum manis dalam kepahitan?.
lamaran kedau aku layangkan dengan berat hati dan ternaya harapan itu telah muncul dan aku mengikuti ujian CPNS. akau dinyatakan lulus tapi belum menerima rurat apapun dari pihak pelaksana. aku mencoba mendatangi dan jawaban yang aku temukan adalah memnuhi kewajiban untuk menjadi PNS. Dalam hati bertanya "maksudnya apa ya?". Aku menarik HP jadulku dan menghubungi teman yang ku anggap mengerti dengan kata-kata itu. Kewajiban yang dimaksud adalah membayar atau kelulusannya d ganti oleh orang lain.
Aku putuskan untuk datang besok saja agar aku dapat berfikir dengan tenang dan mengkalkulasi berapa kira-kira yang harus saya tebus untuk kelulusanku. Keesokan harinya aku datang lagi menemui seseorang untuk menerima konfirmasi. Setelah beberapa lama menunggu antrian kini giliranku untuk bertemu orang tersebut dan menego panjang lebar dan menuai keputusan kalau untuk menerima kelulusan maka aku harus membayar sejumlah uang dan kalu tidak akan di alihkan. aku meminta 3 hari untuk memutuskan.
Dalam keadaan sedikit pusing dan stres aku pulang kerumah dan tidak sadar ternyata sudah sampai kerumah. aku menceritakan kepada orang tuaku, kakak dan beberapa keluarga dekat untuk mendapatkan pendapatnya. Bagi saya dan keluarga dengan keterbatasan ekonomi merasa tidak mampu untuk membayar sejumlah uang yang telah disebutkan pihak terkait untuk menyandang PNS. Keputusanku menjadi keputusan tersulit, kesempatan itu kemungkinan hanya datang 1 kali tapi beresiko tinggi untuk masa depanku dan masa depan keluargaku.
Kebenaran itu tidak bisa akau lawan dan kebanyakan dari mereka menerima dan mengalah demi masa depan yang lebih baik. Meminjam untuk menebus dan menebus dengan meminjam yang harus dibayar dengan tenaga. Ah inilah aku dan aku tidak akan memasuki jebakan itu, semoga keluargaku mau menerimanya.
berbuat benar itu pahit..
Lamaran pertama sudah di terima dan menunggu giliran untuk memenuhi panggilan. setahun berlalu panggilan itu tidak muncul-muncul dan hati pun mulai gusur dan bertanya-tanya dengan keadaan saat itu karena sudah masuk tahun ke 6 pengabdian sementara syaratnya cuma 2 tahun. Secara tidak langsung nilai keiklasan sebagai pengabdian mulai luntur dengan sendirinya. tapi apa mau di kata kehidupan harus lebih baik dari yang sebelumnya.
Rencana untuk mencari jawaban dengan tidak datangnya panggilan tersebut malah harus menelan pil pahit. Seorang teman tanpa pengabdian dinyatakan lulus dan di tempatkan di lokasi dimana saya mengabdi saat ini. Dengan rasa kecewa mencoba untuk tetap mengabdi seperti biasa. Menurut cerita, teman yang lulus sebagai PNS membeli kartu pengabdian dan membayar puluhan juta untuk lolos sebagai PNS dan ada pula yang membayar sampai ratusan juta rupiah.
"apa benar?" serasa aku tidak yakin dengan kejadian itu. aku pun mencoba menggali informasi ke berbagi tempat, sampai akhirnya aku menemukan seorang yang kuanggap sebagai orang tua angkatku, dia bercerita dan memberikan bukti kwitansi pembayaran sekitar 40 orang dengan nilai milyaran rupiah. Aku semakin yakin dengan kecurangan, tapi kenapa semua bungkam? dan kenapa mereka merelakansemua itu, apa ini yang namanya pengabdian mulia?, atau ini hanyalah lelucon yang kadang membuat ngakak dan tersenyum manis dalam kepahitan?.
lamaran kedau aku layangkan dengan berat hati dan ternaya harapan itu telah muncul dan aku mengikuti ujian CPNS. akau dinyatakan lulus tapi belum menerima rurat apapun dari pihak pelaksana. aku mencoba mendatangi dan jawaban yang aku temukan adalah memnuhi kewajiban untuk menjadi PNS. Dalam hati bertanya "maksudnya apa ya?". Aku menarik HP jadulku dan menghubungi teman yang ku anggap mengerti dengan kata-kata itu. Kewajiban yang dimaksud adalah membayar atau kelulusannya d ganti oleh orang lain.
Aku putuskan untuk datang besok saja agar aku dapat berfikir dengan tenang dan mengkalkulasi berapa kira-kira yang harus saya tebus untuk kelulusanku. Keesokan harinya aku datang lagi menemui seseorang untuk menerima konfirmasi. Setelah beberapa lama menunggu antrian kini giliranku untuk bertemu orang tersebut dan menego panjang lebar dan menuai keputusan kalau untuk menerima kelulusan maka aku harus membayar sejumlah uang dan kalu tidak akan di alihkan. aku meminta 3 hari untuk memutuskan.
Dalam keadaan sedikit pusing dan stres aku pulang kerumah dan tidak sadar ternyata sudah sampai kerumah. aku menceritakan kepada orang tuaku, kakak dan beberapa keluarga dekat untuk mendapatkan pendapatnya. Bagi saya dan keluarga dengan keterbatasan ekonomi merasa tidak mampu untuk membayar sejumlah uang yang telah disebutkan pihak terkait untuk menyandang PNS. Keputusanku menjadi keputusan tersulit, kesempatan itu kemungkinan hanya datang 1 kali tapi beresiko tinggi untuk masa depanku dan masa depan keluargaku.
Kebenaran itu tidak bisa akau lawan dan kebanyakan dari mereka menerima dan mengalah demi masa depan yang lebih baik. Meminjam untuk menebus dan menebus dengan meminjam yang harus dibayar dengan tenaga. Ah inilah aku dan aku tidak akan memasuki jebakan itu, semoga keluargaku mau menerimanya.
berbuat benar itu pahit..
0 Comments