Efektivitas Sumur Resapan Tergantung Lokasi

Teknologi sumur resapan merupakan salah satu cara yang dapat digunakan dalam menanggulangi banjir di Daerah Aliran Sungai Ciliwung, termasuk wilayah Ibukota Jakarta dan sekitarnya. Dalam membuat sumur resapan yang baik, pemilihan lokasi perlu dilakukan berdasarkan kajian ilmiah, karena kemampuan meresap air tidak sama pada setiap lokasi.
Hal ini disampaikan Drs. Irfan B. Pramono, M.Sc, Peneliti Hidrologi danKonservasi Tanah Balai PenelitianTeknologi Kehutanan Pengelolaan DAS Solo dan Tim Peneliti RPI Manajemen Lanskap Hutan Badan Litbang Kehutanan sebagai salah satu rekomendasi hasil studinya yang dimuat pada Policy Brief Pusat Litbang PerubahanIklimdanKebijakan Vol. 7 No. 14 Tahun 2013.
Irfan menyatakan bahwa efektivitas sumur resapan tergantung dari faktor jenis batuan, jenis tanah, penutupan tanah, kemiringan lereng, curah hujan, dan kedalaman air tanahnya. Dengan memberibobot dan skor pada masing-masing faktor, lokasi sumur resapan berdasarkan tingkat resapannya akan dapat diperoleh.
Dalam kajiannya, Irfan menemukan bahwa lokasi yang mempunyai resapan paling tinggi adalah yang mempunyai batuan alluvial, curah hujan dengan intensitas rendah, tekstur tanah yang kasar, kemiringan lereng yang kecil dan kondisi air tanah yang dalam. Pembuatan sumur resapan yang baik bagi tempat air hujan masuk ke dalam tanah dan menambah cadangan air tanah sangat diperlukan dalam penanggulangan banjir di DAS Ciliwung.
Pada artikelnya, Irfan menyampaikan, penyebab bencana banjir pada umumnya dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu tingginya pasokan air banjir dari daerah hulu dan tidak memadainya saluran drainase daerah hilir. Untuk itu, penanganan banjir harus komprehensif baik di hulu maupun hilir. Di hilir, memperbaiki saluran drainase diperlukan untuk mengalirkan air dengan lancar. Sementara penanganan hulu sebenarnya lebih efektif, yaitu meningkatkan peresapan air agar bisa menahan air selama mungkin.
Hal tersebut menunjukkan sumber terjadinya banjir ada pada proses Daerah Aliran Sungai (DAS), yaitu curah hujan sebagai input dan banjir sebagai output dari sebuah DAS. Oleh karena itu, menurut Irfan penanganan banjir tidak bisa dilepaskan dari penanganan DAS. Data yang ada menyebutkan, pengisian air tanah di DAS Ciliwung, sungai utama dari 13 DAS yang masukke Jakarta ini berkurang secara drastis karena sebagian besar air hujan yang jatuh menjadi aliran permukaan yang mengakibatkan meningkatnya banjir di daerah hilir. Hasil pantauan di Stasiun Hidrologi Katulampa, Bogor dan Stasiun Hidrologi Sugutamu, Depok, aliran air tanah (base flow) di kedua stasiun tersebut menurun secara signifikan selama 30 tahun terakhir.
Lebih lanjut, Irfan menuliskan bahwa hal tersebut disebabkan penutupan lahan DAS Ciliwung yang berhulu di Kabupaten Bogor dan melewati Kota Bogor dan Kota Depok saat ini didominasi pemukiman, yaitu sebesar 51% dari luas DAS. Diperkirakan, ke depan, luas pemukiman ini akan semakin besar seiring dengan pertambahan penduduk di Jabodetabek. Kondisi ini dikhawatirkan akan memperbesar banjir yang terjadi di Jakarta (IP/PK).

Sumber : REDD I

Post a Comment

0 Comments

Jejak Time akan berubah nama seiring dengan pengembangan situs ini. Terus memantau perkembangan kami hingga kami mencapai sesuai harapan para pembaca. Terima kasih untuk tetap setia membaca