JEJAK Online- 'Pada 2017, Kementan menargetkan cetak sawah baru seluas 80.000 hektar. Adapun, pada tahun sebelumnya, dari target yang dicanangkan 134.000 hektar, hanya terealisasi seluas 129.000 hektar.
Berdasarkan data Kementan, saat ini terdapat 11,68 juta hektar lahan tidur yang masih dapat dioptimalkan, baik untuk cetak sawah baru maupun untuk pembukaan lahan pertanian lainnya.
Hingga saat ini, luas lahan sawah mencapai 8,11 juta hektar dengan kemampuan produksi padi mencapai 75 juta ton'. (kutipan KOMPAS).
Hal ini sangat membanggakan bagi kita masyarakat Indonesia, kemungkinan untuk tahun-tahun berikutnya kita akan surplus bahan pangan dan mengekspor keluar hasil dari pembukaan lahan 8,11 juta hektar.
Kemampuan untuk produksi mencapai 75 juta ton ini dapat memberi makan seluruh rakyat Indonesia dan tidak akan terjadi lagi kelaparan.
Rencana Pemerintah (Presiden Jokowi) sangat brillian dan patut untuk diapresiasi oleh selruh rakyat Indonesia. Namun bukan berarti hal ini tanpa masalah. Berbagai hal terkait pertanian belum mampu untuk diselesaikan oleh bangsa ini. dari lahan tidur, pemuda yang enggang untuk bertani hingga penggunaan pupuk anorganik (Kimia).
'Pada program khusus Peningkatan Produksi Padi, Jagung Kedelai (Upsus Pajale) Pemerintah menghabiskan total anggaran Rp. 103 triliun. Di antaranya, sebanyak Rp. 31,2 triliun digunakan untuk subsidi pupuk kimia anorganik.
Akibatnya terjadilah lahan pertanian yang sangat kritis serta miskin unsur hara tanah. Akhirnya berdampak kepada produktifitas tanaman yang rendah serta daya immunisasi tanaman yang berkurang yang berakibat banyaknya hama penyakit tananam yang menyerang tanaman (Harga pokok produksi meningkat). Para petani akhirnya akan selalu juga tergantung dengan kebutuhan insektisida (menjadi penambah harga pokok tanaman) serta merusak kualifikasi produksi hasil tanaman yang bebas kandungan residu'. kutipan kompasiana
Membahas masalah pertanian tidak akan ada habisnya. belum berakhir masalah satu muncul masalah lain dan hampir semua lini kehidupan berkaitan dengan pertanian. Beda halnya dengan laut (Perikanan dan Kelautan) dua hal ini lebih pada pemenuhan kebutuhan gizi dan pertahanan negara sebagai negara maritim dan pertambangan untuk ketahanan dan inprastruktur.
Negera berkembang saat mulai menggunakan segala cara untuk mengembangkan pertanian, dari pekarangan ke gedung dan sudah lama pertanian dikembangkan di gurung pasir hanya untuk pemenuhan kebutuhan manusia yang tidak pernah ada habisnya.
Kita tidak dapat membayangkan ketika kegiatan pertanian dihentikan, contoh kecilnya adalah kenaikan harga pangan akibat cuaca ekstrim membuat bayak kalangan mulai membahas dan mengatur strategi agar pemenuhan kebutuhan pangan tetap terjaga hingga akhir tahun.
Selain faktor cuaca ekstrim, faktor lain meningkatnya harga pangan adalah semangat bertani anak jaman now mulai menurun, banyak anak muda enggag untuk bertani dan memilih bekerja sebagai buruh, baik dalam negeri maupun luar negeri. sehingga menyebabkan pengalihan fungsi lahan dan bahkan ini yang membuat terjadi lahan tidur dimana-mana. buakan hanya sawah akan tetapi lahan hortikultura pun banyak terbengkalai belum lagi masalah ladang berpindah.
Begitu banyak masalah yang terjadi terkait masalah pertanian, dari atas hingga kebawah sampai ke Institusi pendidikan pun tidak mampu mencetak banyak anak muda yang mau kembali memanfaatkan lahan tidur. jangankan memanfaatkan memikirkan saja mungkin enggang untuk melakukannya, sehingga INNOVASI yang digerakkan pemerintah tidak menunjukkan titik terang.
Masalah ini sangat serius untuk dipikirkan bersama, bagaimana mengembangkan pertanian yang maju dan memiliki daya saing dengan negara lain. saat ini media lebih banyak menyorot masalah ekonomi, wisata, konflik dan politik. Sangat jarang dan bahkan tidak pernah kita menemukan acara yang berkaitan lansung dengan pertanian. Sehingga akses informasi ke Desa-desa sangat minim, kebanyakan sinetron yang membunuh generasi muda kita.
Anak muda harus berani kembali untuk bertani. Media harus memberikan informasi yang berimbang. pemerintah lebuh memperkuat aturan dan perlindungan akses permodalan kepada PETANI kita. FD

0 Comments