PENDIDIKAN PARTISIPATORIS
oleh :
Bahtiar, S.Fil.I
Pemerhati Demokrasi
Pendidikan alat untuk mengembalikan manusia pada kesadaran dirinya
Pendidikan adalah jembatan mengurai kebodohan menjadi mutiara ilmu
Jika jembatan ilmu bermasalah maka proses untuk sampai pada ilmu mustahil wujud
(Bahtiar; Ilmu adalah jembatan meraih kemuliaan diri)
Pendidikan Sebagai ajang aktualisasi diri dan perekayasaan terwujudnya humanisasi bagi siswa dan seluruh anak didik di sekolah. Siswa dan anak didik dalam konsepsi para pendidik masih banyak yang melihatnya dalam rumusannya sendiri. Siswa selalu dipandang hanya sebagai tong kosong, ember yang tak punya isi dan kosong dari pengetahuan anehnya lagi siswa masih dipandang tidak memiliki pengalaman. Cara pandang pendidik pada siswa dengan pola pendekatan lama, pola yang menempatkan siswa dalam kacamata tidak memiliki bakat dan kualitas individual membuat model dan strategi pengajaran terpola dalam bentuk hubungan subjek-objek,tuan-budak, pintar-bodoh, bermoral dan tidak bermoral.
Guru selalu menempatkan diri sebagai dewa, sebagai orang yang serba bisa sementara disisi lain siswa selalu berada dalam kurungan definisi tidak tahu, bodoh dan serba tidak bisa. Hubungan yang dibangun siswa-guru,dosen-mahasiswa menjadi tidak seimbang, tidak sehat dan menindas. Penulis jadi teringat di masa-masa sekolah dulu guru penulis(yang dimaksud aja) selalu membuat aturan yang ketat, membuat jadwal yang ketat, membuat rumusan kebijakan yang mengharuskan siswa disiplin. Sementara pada sisi yang lain guru tidak diikat oleh sebuah aturan. Jika siswa terlambat pasti dihukum, jika siswa salah menjawab soal pasti rapornya merah, jika siswa nakal pasti siswa dihukum, sementara guru terlambat tidak terlambat tidak memiliki sangsi psikologis oleh siswa, bukankah jika guru terlambat maka yang paling banyak dirugikan adalah siswa secara keseluruhan. Coba kita ukur kalau guru terlambat maka semua siswa tidak belajar, semua siswa tidak mendpatkan haknya,namun guru,dosen tidak memiliki tanggung jawab atau sangsi psikologis untunglah sekarang sudah ada sedikit kedisiplinan oleh dinas pendidikan dan DEPAG (departemen agama).
Perbandingan lainnya jika siswa malas, telat maka pasti dihukum di kelas, alangkah tidak adilnya hukum di sekolah kita, bukankah kalau siswa terlambat hanya dirinya saja yang dirugikan, tidak ada siswa lain yang ikut dirugikan kalau ada siswa terlambat. Apa masalahnya sehingga pendidikan kita gagal membangun nilai-nilai humanis, membebaskan dan dialogis anatar siswa dan guru. Pertama lemahnya kualitas guru, kebanyakan kualitas guru pas-pasan dalam menangani sebuah mata pelajaran, untuk mengantisipasi kelemahan guru yang cukup pas-pasan kualitasnya biasanya siswa dikorbankan oleh sang guru,guru meng gunakan metode pendidikan pengajaran model membaca buku pelajaran saja.
Salah satu siawa biasanya dipanggil ke atas kemuadian membaca buku pelajaran sementara siswa lainnya mendengarkan dan mencatat apa yang dibacakan oleh siswa kemudian dibuatkan tugas dan PR untuk dikerjakan. Pada konteks ini guru hanya datang secara seremonial mengajar di sekolah tanpa membanwa dan mengantar anak mengenali dunianya, dunia masa depannya sebagai subtansi dasar pengajaran dan pendidikan berkualitas. Lemahnya kualitas guru dan terbatasnya referensi karena miskin pengalaman berimbas dengan lemahnya metode dan miskin trik pengajaran yang dipakainya. Proses pengajarn seperti ini hanya melahirkan murid diam, taat,bungkam dan bersikap apatis pada pelajaran, semua dilakukan karena keterpaksaan, semua dilakukan hanya untuk memenuhi rutinitas semata untuk mendapatkan nilai dan lulus kelas, lulus hujian.
Dua Falsafah pendidikan tidak jelas orientasi utamanya atau salah difahami oleh para pendidik, ketidak mampuan memahami hakikat pendidikan dan pengajaran membuat guru ingin memberikan pengajaran sesuai pengajaran yang didapatkannya dimasa-masa sekolah dulu. Siswa selalu diberikan contoh-contoh pada masa sang guru jadi siswa dan ketakatan guru pada sekolah, padahal dengan cara demikian seorang guru telah memaksakan kehendaknya, dunianya pada sang murid, bukan seorang siswa, murid, mahasiswa memiliki dunianya sendiri bahkan rasulullah telah mengingatkan kita”kau lebih tau urusan duniamu”, dan di dalam al qur’an sebdiri dijelaskan “tidak berubah suatu kaum sampai kaum itu sendiri meribah dirinya”. Dalam ayat dan hadis Rasulullah SAW dua hal penting yang ingin dirtikulasikan, pertama setiap generasi ada zamannya sendiri-sendiri, kita tidak bisa menyamakan generasi dulu dengan sekarang, seorang pendidik tidak bisa menyamakan siswa dengan dirinya karena masing-masing (guru dan siswa) memiliki pengalaman dan zaman kehidupan yang berbeda. Dulu nenek kita tidak menggunakan HP,dulu nenek kita hanya jalan kaki,naik sepeda ke sekolah dan kampus, sementara sekarang generasi muda sudah menggunakan motor, HP dan membil untuk ke sekolah dan menyampaikan aspirasinya. Dulu siswa minta izin harus menggunakan surat tapi sekarang dengan adanya HP dan facebook seorang siswa bisa izin lewat sms(pesan singkat dan facebook kepada guru.
Kesalahan terbesar yang dilakukan guru jika guru memaksakan dunianya pada murid-muridnya. Perlu difahami dunia yang guru tawarkan pada siswanya merupakan dunia yang menakutkan dan membuat siswa berfikir kebelakang, siswa akan memandang citra guru sebagai meinstrim utama hidupnya, biasnya aktualisasi diri siswa akan terjebak pada sebuah bangun penjara identitas guru dan ini membuat siswa kehilangan jatidirinya sebagai manusia yang memiliki bakat luar biasa.
Tiga pengajaran hanya transfer of knowledge kepada siswa, kebanyakan guru mengajarkan pengetahuan di sekolah atau kampus hanya memberikan pengetahuan semata. Pemberian pengetahuan semata pada siswa membuat corak,pola berfikir siswa menjadi liberal sekularistik. Melihat model pergaulan, perilaku dan budaya populer termasuk anarkisme siswa dan mahasiswa tidak lepas dari peran strategis sang guru dalam membentuk pikiran dan jiwa sang anak. Banyaknya anak-anak sekolah turun ke jalan melakukan balapan liar, bem fangki, pakaian kurang respek dengan realitas sosial, pergaulan bebas, ugal-ugalan dan perkelahian sesama siswa mengindikasikan institusi sekoalh gagal menerjmahkan proses pendidikan sebagai proses membentuk jiwa dan nilai etis sang anak. Kecerdasan sang anak didik mungkin bisa diukur dengan pretasi memadai namun moralitas etisnya melemah atau sama sekali nihil, membuat sang guru dan institusi yang menaungi sekolah gagal memahami pendidikan yang humanis dan alat perubahan sikap dan moralitas anak dari nakal menjadi bermoral. Inilah kegagalan menerjemahkan transfer of value di sekolah, sekolah dan guru gagal memberikan nilai dan menanamkan moralitas kepada sang anak dalam proses pembelajaran.
Untuk menjawab problem di atas maka seorang pendidik harus memahami bakat sang anak, memahami dunianya, memahami masalahnya, memahami keluhan-keluhannya, sehingga interaksi yang dibangun oleh guru bersifat partisifatif. Seorang siswa harus dipahami dunia dan bakatnya agar proses interaksi pengajaran mudah dan dapat menghasilkan hubungan yang harmonis. Pemahaman bakat dan minat anak merupakan sebuah keharusan jika para pendidik mau melakukan pendidikan yang lebih humanis dan partisifatif.
Dalam konteks sekarang ini kita mengenali banyak kecerdasan(multipel intelligence), para pakar pendidikan kita seperti Hernowo, Kang Jalal berbicara atas analisanya dan kajiannya pada bakat anak dengan menemukan kecerdasan majemuk yang penulis maknai sendiri atas diskursus pendidikan dan fitrah manusia dalam konsepsi islam dengan nama “Multi power intellegence”, kecerdasan luar biasa, kecerdasan raksasa yang menjadi fitrah dasar manusia, kecerdasan multi power iintellegence bisa gagal teraktualkan karena manusia tidak mampu merangsangnya. Sejarah telah mengajarkan kepada kita bagaimana manusia besar seperti Plato yang sangat terkenal kecerdasannya sebagai tokoh filosof dunia dengan konsepnya “teori pengingatan kembali”. Plato dengan konsepsi pengingatan kembali memberikan satu instrumen teoritik yang berbasi pada sebuah kehendak suci yang ada dalam diri manusia, tapi kehendak suci atau jiwa yang memiliki semua pengetahuan ini tidak mendapat penyaluran akhirnya semua pengetahuannya menjadi pada kabur dan tak jelas jenisnya, padahal jika manusia sampai memahami dirinya secara fundamental akan menghasilkan kecerdasan yang penulis beri nama “multi power intelligence “.Anda tau bahwa dalam diri anda berjuta kecerdasan,berjuta-juta kemampuan yang anda miliki namun semuanya terbungkan karena adanya pemenjaraan bakat, ingatkah kita islam telah mengajarkan lewat hadis Rasulullah “semua anak lahir dalam keadaan fitrah, namun orangn tuanyalah yang membuat sang anak menjadi majusi,kristen dan yahudi”.
Konsepsi islam tentang fitrah manusia menyimbilk jiwa suci manusia yang termanifestasi dalam tubuh memiliki roh suci. Jiwa suci tersebut terselimuti oleh kebodohan karena dijangkiti sebuah penyakit mental, penyakit budaya,penyakit malas,penyakit moral untuk mengobati problem ini mari kita berkaca pada sejarah. Islam dan masyarakat Sulawesi Selatan mengenal yang namanya ulama dan tu panrita. Ulama sebagai minstrim ilmuan islam seperti Al Farabi, Ibn Sina sementara panrita adalah orang yang sangat sakti bahasanya, jika seorang penrita melarang anda di masa lalu melakukan kegiatan, atau meminta anda melakukan kegiatan kalau anda melawan perintahnya maka secara otomatis anda akan mengalami nasib yang malang(baca tupanritata). Kenapa bisa demikian sakralnya sebuah ungkapan Tu Panrita? Karena Tu panrita membangun sebuah pengetahuan yang memiliki semangat nilai dan moralitas individual, seorang penrita memiliki jiwa yang suci sebagaimana keinginan Plato dalam mendidik dan membangun akademia di Atena.
Untuk membangun pendidikan yang memiliki basis pengetahuan benar, konteks dan partisipatif maka seorang pendidik harus menggunakan pendekatan andragogi dalam mendidik siswanya. Pendekatan andragogi adalah model pengajaran yang menempatkan siswa aktif, siswa sebagai subjek pelaku, siswa sebagai agen utama dalam prose pengajarn sementara guru hanya sebagai fasilitator. Modelnya adalah siswa sebagai subjek, guru sebagai subjek subjek dan pelajaran sebagai objek yang tak terpisahkan dari diri siswa yang harus dijawab dan carikan solusinya. Pendidikan partisipatoris harus memiliki basis kultural, sehingga pengajaran dan proses pendidikan merupakan proses membangun nilai dan kearifan moral dalam diri siswa.
Bantaeng, 5 Mei 2011
0 Comments